Benarkah Mobil Listrik Indonesia Lebih Baik Bagi Lingkungan?

Mobil listrik Indonesia sempat dipuji-puji sebagai alat utama dalam transisi menuju masa depan yang lebih hijau atau ramah lingkungan. Tetapi, seberapa baik kendaraan tersebut bagi lingkungan? Dan apakah merupakan solusi berkelanjutan?

Banyak negara sedang mengembangkan dan mempromosikan mobil listrik sebagai kendaraan utama untuk membatasi penggunaan minyak serta perubahan iklim. Beberapa vendor mengatakan bahwa di masa mendatang akan menghentikan mobil bertenaga mesin.

Jika melihat pernyataan para ahli secara luas setuju jika kendaraan plug in merupakan pilihan yang ramah lingkungan daripada versi sebelumnya. Namun, kendaraan tersebut akan memberikan dampaknya sendiri tergantung bagaimana memproduksinya.

Mobil plug in jelas lebih ramah lingkungan daripada kendaraan biasa yang menggunakan bensin atau solar. EV tidak menggunakan emisi gas yang merusak lingkungan dan kesehatan masyarakat seluruh dunia.

Kendaraan plug in sebenarnya telah ada selama lebih dari 120 tahun. Tetapi, berkat inovasi dan kemajuan luar biasa, pada beberapa tahun terakhir dan membuat industri tersebut mengalami pertumbuhan yang menakjubkan.

Bagaimana Mobil Listrik Indonesia Bisa Lebih Baik untuk Lingkungan?

Kenaikan bahan bakar dan dorongan inisiatif yang lebih hijau telah menyebabkan banyak organisasi mengadopsi kendaraan listrik (EV). Terkenal karena efisiensi bahan bakarnya, EV menjadi cara terbaik untuk mengurangi biaya operasional.

Di Indonesia, rata-rata Rp.1650-Rp.2.446 per KWh, biasanya bisa untuk menempuh jarak 837 km dengan 112KWh. Hal tersebut tentu merupakan biaya yang sangat rendah jika dibandingkan dengan mobil berbahan bakar bensin.

Selain biaya bahan bakar yang lebih rendah, mobil listrik Indonesia juga berfungsi sebagai alternatif ramah lingkungan untuk bahan bakar diesel. Dengan menghilangkan knalpot, kendaraannya akan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Mobil-mobil konvensional menggunakan mesin pembakaran internal (ICE) yang umumnya membutuhkan bahan bakar fosil seperti gas atau solar. Sedangkan EV menggunakan satu atau lebih motor listrik yang ditenagai baterai lithium ion.

Baterai lithium ion merupakan jenis yang sama seperti milik smartphone dan laptop. Seperti perangkat elektronik lainnya, EV bisa di isi ulang dengan dicolokkan ke sumber daya eksternal untuk pengisian dayanya.

Seperti sudah dikatakan sebelumnya bahwa, mobil listrik Indonesia memiliki dampaknya sendiri bagi lingkungan. Semua hal tersebut bergantung pada bagaimana cara vendor memproduksi dan menyelesaikan mobilnya.

Namun, jika Anda masih bertanya apakah benar-benar baik bagi lingkungan, jawabannya untuk saat ini adalah iya. Tapi, jika penggunaan jangka panjang, terdapat berbagai dampak negatif tersendiri bagi lingkungan dan Anda.

Penting untuk diingat jika EV harus diisi daya dan di dalamnya terdapat berbagai bahan bakar campuran. Beberapa bahan bakar campuran tersebut terdiri dari gas modern dan lama, nuklir, daya, batubara.

Manfaat Memiliki Mobil Listrik Indonesia Saat Ini

Di era sekarang, banyak perusahaan otomotif mulai melakukan inovasi pada mobilnya dengan membuat kendaraan baru berenergi listrik. Beberapa merk seperti Hyundai, Lexus, Nissan Leaf, DFSK, jadi pelopor keberadaannya.

Tingkat kualitas udara yang buruk jadi masalah utama, itulah sebabnya mengapa dibuat kendaraan ramah bahan bakar. Salah satu penyebabnya adalah gas berbahaya yang dihasilkan dari emisi buangan tidak sempurna.

Kendaraan berenergi listrik diharapkan bisa mengurangi polusi tersebut sehingga lingkungan menjadi lebih sehat. Lebih sedikit emisi berarti polusi baik udara, suara, dan lainnya juga berkurang.

Ada banyak fitur menarik yang didapat saat memiliki mobil listrik Indonesia. Semua kendaraan plug in terhubung ke jaringan, tidak hanya ke tablet media, tapi juga ke mobil itu sendiri.

Bahkan, ada AI atau artificial intelligence yang akan memudahkan pengemudi. EV bisa melakukan banyak hal seperti membaca emosi pengemudi, mengeluarkan suara kendaraan yang senyap, dan berbagai kecanggihan lainnya.

Salah satu kecanggihan yang sangat menakjubkan adalah terdapat fitur auto pilot. Anda hanya perlu memilih tujuan berkendara di layar atau tablet monitor, setelah itu mobil akan melaju sendiri ke tujuannya.

Mobil listrik Indonesia memiliki desain yang jauh lebih baik daripada konvensional. Bentuknya ringan atau sederhana, tapi sangat futuristic, memiliki keamanan yang juga jauh lebih baik daripada konvensional.

Mobilnya tidak membutuhkan banyak mesin, sehingga ruang yang tersisa dapat digunakan untuk optimalisasi daya tahan. Itulah mengapa kendaraannya jauh lebih aman dan dapat menurunkan risiko kebakaran, dan kecelakaan.

Kendaraannyanya cocok digunakan bagi Anda yang ingin mencicipi masa depan dan mengurangi emisi demi menyelamatkan lingkungan. Sehingga memiliki kendaraan tersebut memiliki banyak manfaat yang bisa dirasakan.

Dampak Negatif Adanya Mobil Listrik Indonesia

Semua hal tentu memiliki dampak negatif, termasuk mobil plug in. Meskipun penjualannya mengalami peningkatan setiap tahunnya, karena pada 2029 mendatang dikabarkan kendaraannya akan memenuhi jalan raya.

Jika alasan utama Anda membeli mobil ini adalah adanya dampak lingkungan yang lebih baik karena tidak mengeluarkan emisi gas. Namun, terlepas dari hal tersebut ada banyak dampak negatif.

Meskipun sudah mulai banyak digunakan, sebagian besar pengguna masih tidak nyaman untuk menggunakan mobil listrik Indonesia. Alasan paling umum adalah ketakutan kehabisan baterai karena masih jarang adanya tempat pengisian daya.

Karena masih sedikitnya tempat pengisian, adanya kendaraan tersebut membuat ruang terbuka akan terbuang. Hal tersebut dikarenakan, pemerintah harus membabat ruang terbuka dan membangun tempat pengisian daya EV.

Selain itu, dikhawatirkan juga akan menambah limbah akibat produksi dari mobil plug in Indonesia. Karena produksi EV membutuhkan bahan material berbeda dengan kendaraan konvensional sebelumnya.

Bahan bakar mobil listrik Indonesia adalah penggunaan baterai lithium ion. Bahan kimia dari dalam baterai tersebut sangat berbahaya karena terdapat kandungan timah, asam sulfat, dan berbagai lainnya.

Baterai lithium ion juga memiliki rentan panas yang cukup berlebih. Hal tersebut membuatnya mudah meledak dan juga memungkinkan untuk terjadi kebakaran saat penggunaan terlalu lama.

Jadi, meskipun mobilnya akan memberikan keamanan saat berkendara, tapi Anda tetap ada bahaya mengintai. Yakni ledakan, kebakaran, hingga bahaya bagi kesehatan bagi pengguna kendaraannya tersebut.

Dampak negatif bisa dilihat dan dirasakan dari keadaan lingkungan, serta kesehatan penggunanya. Sebab itu, penggunaannya masih belum dipastikan akan memberikan keamanan sesuai harapan developer kendaraannya.

Isu Mengendarai Mobil Listrik Indonesia Bisa Menyebabkan Kanker

Mungkin sebagian besar sudah mendengar bahwa penggunaan EV sangat berbahaya. Hal tersebut dikarenakan Anda akan mendapatkan paparan medan elektromagnetik dari baterai dalam kendaraan secara terus menerus selama perjalanan.

Sejak peluncuran kendaraan pertamanya, banyak pertanyaan mengenai kesehatan dan keselamatan yang diajukan. Termasuk pertanyaan mengenai benar tidaknya plug in bisa menyebabkan penggunanya terkena penyakit kanker atau tidak.

Karena kendaraan mobil listrik Indonesia ditenagai sepenuhnya oleh listrik, maka dianggap memiliki pancaran medan magnet. Kendaraan plug in merupakan mesin, tegangan, kabel, dan baterai bertegangan sangat tinggi.

Namun, tampaknya hal tersebut hanya sebuah isu yang bertebaran di masyarakat saja. Karena beberapa fakta seperti tingkat lapangan yang diukur dalam mobil hibrida jauh di bawah pedoman ICNIRP dan aman.

WHO menerbitkan pernyataan bahwa “efek biologis yang berasal dari medan EV pada tingkat paparan tinggi tidak dikenali sebagai penyebab kanker”. Pernyataan WHO seharusnya membuat masyarakat tenang dan beralih ke EV.

Mengendarai Mobil Listrik Indonesia saat Hujan Apakah Aman?

Pertanyaan yang seringkali didengar, karena masyarakat masih jarang menggunakannya. Hal tersebut juga wajar ditanyakan karena EV merupakan barang baru sehingga harus mengetahui berbagai halnya dulu sebelum menggunakan.

EV dirancang untuk dikemudikan dan diisi daya dengan aman, meskipun di tengah hujan. Baik EV maupun konvensional, semuanya telah dirancang agar penggunanya aman meskipun cuaca ekstrem sedang terjadi.

Ada mitos yang beredar di masyarakat bahwa EV tidak boleh diisi dan dikemudikan saat hujan tiba. Hal tersebut menjadikan EV disebut sebagai kendaraan musim kemarau.

Semua komponen listrik utama tersimpan dengan aman dan terlindungi agar keamanan penggunanya terjamin. Anda juga bisa mengisi daya EV saat hujan di stasiun pengisian daya.

Berbeda jika sedang terjadi banjir, Anda tidak boleh berkendara saat kondisi tersebut. Meskipun EV diklaim mampu berkinerja lebih baik daripada kendaraan konvensional saat mengarungi air.

Jika memiliki EV, Anda bisa memeriksa peringkat IP tipikal dalam kendaraannya seperti IP65 atau IP67. Semakin tinggi angka pada kendaraannya maka perlindungan yang diberikan akan tambah baik, untuk debu, air.

Peringkat IP67 memungkinkan pemilik mobil untuk menerobos genangan air selama 30 menit tanpa kebocoran. Pada saat itu, seseorang tidak perlu khawatir akan terjadi kerusakan terminal, konektor, dan arsitektur.

Untuk IP67 sendiri diklaim sangat aman, karena genangan air tidak menyebabkan kerusakan pada mesin. Selain itu, genangan air juga tidak akan menghantarkan listrik ke air di sekitar kendaraan.

Lokasi Stasiun Pengisian Daya Mobil Listrik Indonesia

Tren EV disambut baik oleh masyarakat Indonesia, bahkan pemerintah juga mendukung hal tersebut. Bentuk dukungan dari pemerintah Indonesia adalah menyediakan stasiun pengisian daya di beberapa lokasi.

Untuk pengisian daya baterai EV sendiri ada 2 yakni on-board dan off-board charger. Cara pengisian ini disesuaikan dengan jenis mobil yang Anda miliki, karena masing-masingnya berbeda.

On-board charger merupakan pengisian daya yang dimiliki EV dengan chargernya sudah terpasang di dalam kendaraannya. Untuk daya listrik yang masuk memakai arus AC atau bolak-balik.

Sedangkan pada off board charger merupakan pengisian daya yang dimiliki EV dengan chargernya terpisah. Daya listrik yang masuk ke dalam EV merupakan arus DC, namun jenis ini jarang ditemukan.

Untuk pengisiannya dilakukan dengan plug in hybrid dan menginstal aplikasi charge.IN. Waktu pengisiannya bermacam-macam, 1,3, dan 17 jam, hal tersebut dipengaruhi oleh charger yang digunakan.

Pada awalnya pengisian daya mobil listrik Indonesia hybrid gratis, tapi di akhir 2020 mulai dikenakan tarif. Meski begitu, tarifnya tetap murah hanya Rp. 1.650 untuk 1 kwhnya.

Per 1 kwhnya, kendaraan hybrid bisa menempuh jarak hingga 5,1 km. Jika dibandingkan dengan kendaraan konvensional, ini tentu terbukti lebih murah dan efisien untuk digunakan sehari-hari.

Beberapa lokasi SPKLU atau stasiun pengisian EV adalah senayan city, Aeon Mall, Tangerang City Mall, PLN pusat, PLN UID Jaya. PLN UID Bali, Jawa Tengah, DIY, serta PLN ULP Surabaya.

Terdapat juga di 20 dealer resmi penyedia EV, Mitsubishi, BMW, Mercedes Benz. Jadi, lokasi SPKLU sudah tersebar meluas, meskipun masih berada di wilayah kota saja.

Dunia baru sudah ada di depan mata dan tidak bisa dihindari lagi. Sudah waktunya masyarakat beralih ke mobil listrik Indonesia untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.